Sunday, 13 March 2016

SILASE DAN CARA PEMBUATANNYA

Pakan merupakan  faktor terpenting dalam usaha peternakan, hampir mencapai 70 % dari biaya produksi. Bagi peternakan hewan ruminansia pakan yang berkualitas sangat menentukan dalam performa ternak yang dihasilkan. Yang dimaksud pakan berkualitas adalah pakan dengan kebutuhan dan kandungan nutrisi  yang cocok pada ternak tersebut sehingga biaya pakan yang dikeluarkan sebanding dengan performa pada ternak yang dihasilkan. Salah satu pakan yang sering digunakan untuk peternakan ruminansia khusunya peternakan sapi adalah pakan silase dikarenakan pakan silase adalah pakan yang dapat disimpan dan dipakai dalam waktu yang lama. Untuk mengetahui tentang apa itu silase, manfaat silase, dan proses pembuatannya disini  saya akan berbagi pengetahuannya.

 Silase adalah pakan yang mempunyai kadar air tinggi hasil fermentasi yang berasal dari tanaman hijauan  yang diawetkan didalam sebuah silo (tempat/ruangan kedap udara) selama sekitar 3 minggu agar terjadi fermentasi. Tanaman-tanaman yang bisa dibuat menjadi silase adalah batang jagung, rumput gajah, jerami padi, sorghum,dan limbah hasil pertanian lainnya.


Tujuan dari pembuatan silase adalah memaksimalkan kandungan nutrisi yang terdapat pada pakan setelah mengalami proses fermentasi dan bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan memperoleh pakan hijauan disaat musim kemarau. Pada saat membuat silase kandungan air dalam hijauan tidak boleh lebih dari 60 % dan tidak boleh terlalu kering, jika kandungan air terlalu banyak pakan akan mengalami pembusukan selama proses fermentasi dan sebaliknya jika terlalu kering maka akan menimbulkan tumbuhnya jamur pada pakan.

Manfaat dari silase adalah :
·     Bisa dipakai pakan ternak ruminansia dalam waktu lama
·     Bisa untuk persediaan pakan saat musim kemarau
·    Menampung kelebihan hijauan saat musim penghujan sehingga dapat dipakai saat musim kemarau
·     Mempunyai nilai gizi yang tinggi
·     Disukai ternak

Proses Pembuatan Silase
Alat :
·   Silo  : dipakai sebagai tempat kedap udara untuk menyimpan hijauan agar terjadi fermentasi
·     Mesin Pencacah (Chopper)  :  untuk memotong hijauan
·     Plastik kantong          :  untuk melapisi dinding silo agar udara tidak masuk

Bahan :
·     Hijauan makanan ternak ( rumput, sorghum, jagung, biji-bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas, dan jerami padi ).
·     Bahan Pengawet (Additif) yang diberikan secara langsung agar selama penyimpanan terbentuk suasana asam. Pemberian tidak langsung meliputi pemberian :
-          Natrium bisulfat
-          Sulfur oxida
-          Asam chlorida
-          Asam sulfat
-          Asam propionate
·   Sedangkan pemberian bahan secara tidak langsung  (konsentrat) adalah pemberian bahan-bahan yang mengandung karbohidrat yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :
-          Molases                :  2,5 kg / 100 kg hijauan pakan
-          Tepung onggok    :  2,5 kg / 100 kg hijauan pakan
-          Tepung jagung     :  3,5 kg / 100 kg hijauan pakan
-          Dedak halus         :  5 kg / 100 kg hijauan pakan
-          Ampas sagu         :  7 kg / 100 kg hijauan pakan

Tujuan pemberian bahan tambahan ini adalah agar mempercepat proses fermentasi oleh mikroba  dan untuk meningkatkan kadar nutrisi yang terkandung pada bahan utama. Kualitas dan nilai nutrisi silase dipengaruhi beberapa faktor antara lain : jenis hijauan yang dipakai, proses penyimpanan, mikroba yang digunakan pada penggunaan tanaman bahan additive, dan kandungan bahan kering hijauan. Adapun penyusunan formula bahan pakan silase yang terdiri dari campuran hijauan pakan : konsentrat : bahan additive bisa menggunakan perbandingan 70 % : 20 % : 10 %  atau 60 % : 30 % : 10 % yang didasarkan dari presentase berat dari ketiga bahan tersebut.

Fakto-faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan silase

a.  Kondisi Bahan Utama
Kondisi bahan utama adalah tingkat kematangan tanaman karena tingkat kematangan tanaman yang tepat menentukan tercukupinya jumlah gula fermentasi untuk proses pertumbuhan bakteri silase dan memberikan nutrisi penuh pada ternak.

b.  Cara Pemotongan
Pemotongan ideal bahan pakan ternak untuk pembuatan silase adalah antara 6-10 cm tergantung dari jenis tanaman yang digunakan, struktur penyimpanan, dan jumlah silase. Pemotongan yang terlalu panjang berdampak silase sulit untuk dipadatkan serta udara akan terperangkap didalam silase, sebaliknya jika potongan terlalu pendek berakibat timbulnya dampak negative terhadap produksi lemak susu dan timbulnya dislokasi abomasum pada sapi perah.

c.   Pengisian, Pembungkusan, dan Pemadatan
Saat proses pengisian dan pemanenan silo harus dilakukan secepat mungkin, penundaan pengisian akan berakibat pada terjadinya proses respirasi yang berlebihan dan menurukan kualitas hasil fermentasi silase. Pembungkusan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin pada saat akan menyimpan bahan pada  silo, setelah itu silo harus ditutup rapat dengan bungkus yang kedap udara untuk mencegah udara masuk.


Proses Pembuatan Silase

Tahap I – Fase aerobik
Pada tahap ini hanya memerlukan waktu beberapa jam saja, fase ini terjadi karena keberadaan oksigen di sela-sela partikel tanaman. Jumlah oksigen yang ada akan berkurang seiring dengan terjadinya proses respirasi pada material bahan serta pertumbuhan mikroorganisme anaerob dan fakultatif anaerob seperti Khamir dan Entero bacteria. Selanjutnya enzim pada tanaman seperti Protease dan Carbohydrase akan teraktivasi, sehingga kondisi pH pada silase tetap dalam batas normal antar 6,5 – 6,0.

Tahap II – Fase Fermentasi
Tahap ini dimulai ketika kondisi silase menjadi anaerobik dan berlanjut beberapa minggu tergantung dari jenis dan kandungan tanaman yang digunakan serta kondisi proses ensilasi. Jika proses fermentasi berlangsung sempurna, bakteri asam laktat ( BAL) akan berkembang mejadi dominan, pH pada material silase akan turun hingga 3,8-5,0 karena adanya produksi asam laktat dan asam-asam lainnya.

Tahap III-Fase Stabil
Tahap ini berlangsung selama oksigen dari luar tidak masuk ke dalam silo. Sebagian besar jumlah mikroorganisme yang berkembang pada fase fermentasi akan berkurang secara perlahan. Beberapa jenis mikroorganisme toleran asam dapat bertahan dalam kondisi inaktif pada fase ini. Mikroorganisme lainnya seperti clostridia dan bacilli bertahan dengan menghasilkan spora. Hanya beberapa jenis mikroorganisme penghasil enzim protease dan carbohydrase toleran asam serta beberapa mikroorganisme khusus, seperti Lactobacillus buchneri yang dapat tetap aktif pada level rendah.

Tahap IV- Fae Pemanenan
Dimulai segera setelah silo dibuka dan silase terkena udara dari luar. Dapat dimulai terlalu awal jika peutup silase rusak sehingga terjadi kebocoran. Jika fase ini berlangsung terlalu lama, maka silase akan mengalami penurunan kualitas akibat terjadinya degradasi asam organik yang ada oleh Khamir dan bakteri asam asetat. Proses tersebut akan menaikkan pH pada tumpukan silase dan selanjutnya akan berlangsung tahap spoilage ke-2 yang mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu, dan peningkatan aktivitas mikroorganisme kontaminan, seperti bacilli, moulds dan enterobacteria.

Untuk meminimalisir terjadinya kegagalan dalam proses pembuatan silase, diperlukan penanganan dan pengontrolan yang optimal pada setiap tahapan antara lain:
-     Panjang pemotongan pada bahan jangan terlalu panjang dan jangan terlalu lembut
-     Kadar air pada bahan jangan sampai melebihi 60 %.
-     Pada saat penumpukkan pada silo jangan ada ruangan yang berakibat adanya udara.
-     Setelah bahan dimasukkan dan tertata dalam silo harus langsung segera ditutup.

Cara Pembuatan Silase

Persiapan Tempat (Silo)
Silo biasanya terbuat dari cor-coran semen membentuk kubus dengan salah satu bagian atas atau samping terbuka guna untuk memasukkan bahan. Silo juga bisa dibuat dari drum oli atau profil tank dan jika tidak ada alat tersebut plastik ukuran besar bisa juga dipakai. Untuk ukuran silo dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Di dalam silo jangan sampai terdapat air atau terlalu lembab dan yang terpenting tidak ada celah untuk masuknya udara pada saat penyimpanan.

Penyiapan Bahan
Bahan yang digunakan sebaiknya berasal dari hijauan yang masih segar setelah pemanenan dengan kondisi tidak terlalu basah maupun terlalu kering. Jika didapat bahan masih basah sebaiknya dilayukan terlebih dahulu. Setelah itu bahan dipotong dengan menggunakan mesin pencacah (copper) atau bisa menggunakan parang yang tajam.

Pemasukkan Bahan Kedalam Silo
Selanjutnya adalah memasukkan bahan kedalam silo dengan cara bertahap dan berlapis. Pertama masukkan bahan dengan ketinggian kira-kira 3 cm setelah itu taburkan konsentrat (Dedak halus, molases,tepung jagung) secara rata diatas bahan, setelah itu semprotkan bahan aditif yang dicampur dengan air secukupnya diatas bahan tersebut, setelah itu tumpuk dengan bahan lagi dan ulangi urutan penataannya sampai silo penuh dan tekan kebawah sehingga tidak ada ruang kosong dalam silo, hal ini bertujuan agar didalam pengisian silo tersebut tidak ada udara didalam ruangan silo. Setelah silo penuh secepatnya silo ditutup rapat sehingga udara  dari luar tidak masuk kedalam silo teersebut. Setelah 3 minggu silo bisa dibuka dan pakan sudah bisa diberikan pada ternak. Sebaiknya pemberian pada ternak dapat dicampur dengan hijauan pada saat musim dimana hijauan mudah didapatkan. Silase dapat dipakai dalam waktu lama asalkan pada saat pengambilan silase dalam silo kondisi silo tidak terbuka dalam waktu yang lama.

Ciri-ciri Silase yang Baik:
·          Berbau wangi seperti tanaman yang masih segar dengan sedikit bau asam
·          Bila dicoba digigit rasanya manis dan terasa sedikit asam.
·          Tidak terdapat jamur.
·          Warna hijau kekuningan atau agak kecoklatan
·          Bentuknya kering dan tidak ada yang busuk

Cara Pemberian Pada Ternak
  • Pemberian silase pada ternak harus dilakukan secara berhati-hati, silo harus cepat-cepat ditutup setelah silase diambil agar tidak terkontaminasi udara luar.
  • Sebelum diberikan pada ternak sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu.
  • Bagi ternak yang belum terbiasa diberi pakan silase, sebaiknya pemberian silase dicampur dengan hijauan segar  (Yusriani, 2015).








Referensi Blog
·        Yusriani, Y. 2015. Pengawetan Hijauan Dengan Silase Untuk Pakan Ternak Ruminansia. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh,  Banda Aceh. 


Wednesday, 9 March 2016

JENIS-JENIS DOMBA DI DUNIA



Domba adalah salah satu kelompok hewan ruminansia disamping sapi, kerbau, dan kambing. Hewan ini populasinya hampir tersebar diseluruh dunia dengan berbagai jenis. Baik yang sudah jinak yang banyak dibudidayakan oleh manusia untuk diambil dagingnya dan bulunya maupun yang masih liar hidup dihutan. Makanan utama domba adalah rumput. Ciri khas dari hewan ini adalah kepala lebih cenderung berbentuk segitiga, memiliki tanduk yang khas dan sebagian jenis punya bulu yang tebal.

Jenis-jenis domba didunia adalah:

1.     Merino (Ovies Orientalis Aries )
Berasal dari daerah Asia Kecil namun berkembang baik di Australia dan Eropa. Merupakan domba penghasil wol terbaik. Domba Merino sangat cocok dibudidayakan didaerah dengan suhu dingin seperti dipegunungan karena dengan adanya suhu dingin ini mampu membuat bulu domba ini berkembang dengan baik. Panjang bulu yang dapat dihasilkan domba ini bisa mencapai panjang 10 cm. Ciri-ciri domba ini adalah berbulu tebal, yang jantan bertanduk yang betina tidak, kebanyakan berwarna putih, bobot badan jantan dewasa mencapai 70-80 kg dan yang betina mencapai 50-60 kg.



2.     Bighorn Sheep (Ovies Canadensis)
Dikenal dengan sebutan domba bertanduk besar dan merupakan domba tipe pedaging. Populasinya di Amerika utara dan Siberia. Ciri khas domba ini adalah tanduknya, jantan memiliki tanduk besar dan membengkok dengan berat tanduk bisa mencapai 14 kg, kebanyakan domba ini berwarna bervariasi antara coklat tua dan keabu-abuan. Berat badan untuk jantan mencapai 135 kg dan yang betina mencapai 90 kg.


3.     Argali ( Ovies Ammon )
Hidup liar didataran tinggi yang berbukit-bukit, kebanyakan terdapat didaerah Asia tengah. Merupakan domba terbesar didunia dengan panjang badan domba jantan mencapai 130-195 cm, tinggi gumba mencapai 90-120 cm, dan bobot badan jantan dewasa berkisar antara 70-165 kg. Pola warna bulu pada domba ini bervariasi dari kuning muda sampai kelabu-coklat tua, wajah Nampak lebih kecil, kebanyakan memiliki lingkar leher berwarna putih, tanduk domba ini besar dan berpilin yang bias mecapai panjang 190 cm untuk jantan dan betina panjangnya hanya sekitar 30 cm.



4.     Thinhorn Sheep ( Ovies Dalli )
Kebanyakan hidup liar didaerah pegunungan Alaska yang subartic, wilayah Yukon, dan Columbia Britania Utara. Warna rambut domba ini adalah putih dan coklat, warna tanduk kekuningan, untuk domba jantan tanduknya bengkok dan besar, sedangkan untuk betina lebih pendek dan kecil.


5.     Urial ( Ovies Orientalli)
Lebih dikenal dengan nama Shapo atau Arkhar. Banyak ditemukan didaerah Asia pusat dari Northeastern Iran dan Kazakhstan ke Balochistan dan Ladakh. Selain itu dapat juga ditemukan di Kashmir, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Domba ini hidup di habitat alam dengan kadar tumbuhan sedang sampai daerah yang sangat gersang, terutama padang rumput, tapi juga bisa ditemukan dikawasan hutan. Makanan utama domba ini adalah rumput tapi juga suka dedaunan semak serta biji-bijian. Ciri-ciri utamanya bulunya yang panjang dan berwarna coklat kemerahan yang memudar selama musim dingin, Jantan mempunyai ciri lingkaran hitam yang membentang dari leher sampai dada dan , sepasang tanduknya yang besar dan janggutnya yang berwarna putih dibawah mulut. Tanduk jantan bisa mencapai panjang 100 cm, tinggi pundak domba jantan dewasa berkisar antara 80-90 cm dengan bobot hidup sekitar 50 kg.



6.     Mouflon (Ovies musimon)
Banyak ditemui di daerah Kaukasus dan Irak Utara serta daerah Iran, Pertama kali diperkenalkan ke pulau Corsica, Sardinia, Rhodes, dan Cyprus. Ciri-cirinya berwarna merah coklat dengan bagian sepanjang punggung berwarna gelap, dan bagian samping berwarna lebih cerah, bagian bawah dan separuh bagian bawah kakinya berwarna putih Moncongnya berwarna putih. Tanduk domba jantan lebih besar dari betina dan bisa mencapai pajang 64 cm. Bobot hidup berkisar antara 25-55 kg dengan panjang tubuh berkisar 1,2 - 1,5 m, dan tinggi gumba sekitar 60-120 cm. Makanan domba ini adalah rumput dan dedaunan semak. Mouflon termasuk dalam domba yang diternak untuk diambil bulunya.




7.     Domba Ekor Gemuk (Ovies aries)
Domba ini merupakan jenis domba yang paling banyak diternakkan didaerah Indonesia terutama di Jawa Timur dan Madura. Dikenal juga dengan nama domba Sapudi. Ciri khas domba ini adalah memiliki ekor panjang dan gemuk, tidak bertanduk, kebanyakan berwarna putih dan terkadang ada belang-belang hitam kecoklatan. Bobot tubuh dewasa jantan berkisar 45 - 65 kg dan untuk betina berkisar 25 – 35 kg. Tinggi badan jantan antara 60 – 65 cm dan betina 52 – 60 cm. Domba ini termasuk dalam tipe pedaging.



8.     Domba Ekor Kecil (Ovies aries)
Populasinya banyak di jumpai di Indonesia terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di masyarakat lebih populer dengan nama wedhus gembel. Domba ekor tipis termasuk dalam tipe domba berukuran kecil dengan bobot hidup rata-rata antara 20 – 30 kg, dan ciri utamanya adalah ekornya yang tipis. Warna bulu kebanyakan berwarna putih dan kasar, pada umumnya memiliki tanduk melingkar sedangkan pada betina tidak. Merupakan tipe domba pedaging.



9.     Domba Garut (Ovies aries)
Domba ini sangat terkenal didaerah Jawa Barat dikeranakan sering dipakai buat kegiatan aduan domba. Domba ini merupakan hasil persilangan antara domba Merino dengan domba ekor gemuk. Dinamakan domba Garut karena awal perkembangan domba ini adalah berasal dari daerah garut, Jawa Barat. Ciri-ciri domba ini adalah tubuh agak besar, Jantan memmiliki tanduk yang besar melengkung ke arah belakang dengan ujung mengarah ke depan, bobo hidup domba jantan dewasa berkisar 60 – 80 kg sedangkan untuk betina berkisar 30 – 40 kg, memiliki ekor pendek dengan pangkal agak gemuk. Bulunya panjang dan halus berwarna putih, hitam, coklat, atau kombinasi dari ketiga warna itu.



10.                        Domba Texel
Diperkirakan berasal dari pulau Texel, Belanda sesuai namanya. Di Indonesia domba ini bisa ditemukan di daerah dataran tinggi Dieng dan Wonosobo. Ciri-ciri domba ini adalah sifatnya tenang bahkan jika ada manusia yang mendekat domba ini jarang beranjak atau lari menjauh, berbulu halus dan keriting berbentuk spiral, memiliki leher yang panjang, ekornya kecil, bobot hidup jantan dewasa bisa mencapai bobot 100 kg dan utuk betina sekitar 80 kg.